Pertanian sapi, meskipun terkadang dianggap sebagai sektor yang kuno, menghadirkan potensi besar dalam membentuk generasi unggul di tengah arus modernisasi. Kunjungan edukasi ke Ilyas Farm pada hari Selasa, 6 Mei 2024, menjadi bukti nyata bagaimana revitalisasi pertanian sapi dapat menjadi kunci untuk menciptakan generasi yang tangguh, berwawasan luas, dan peduli lingkungan.

Dalam era di mana teknologi dan inovasi mendominasi, keberadaan peternakan sapi seperti Ilyas Farm mengajarkan kita bahwa nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal tidak boleh dilupakan. Abu dan Ummu Azizha, pemilik yang juga merupakan wali santri, menjadikan peternakan sebagai laboratorium hidup bagi pembelajaran yang holistik. Di sana, para santri tidak hanya belajar tentang manajemen peternakan, tetapi juga memahami siklus alam dan nilai-nilai kebersamaan dalam berkomunitas.
Kunjungan ini menciptakan momentum penting untuk memperkenalkan kembali pertanian sapi sebagai pilihan karier yang menjanjikan bagi generasi muda. Dari pemeliharaan sapi hingga pengolahan produk susu, peternakan seperti Ilyas Farm membuka peluang luas untuk pengembangan keterampilan dan kreativitas generasi mendatang.
Kahadiran para santri serta Asatidzah disambut hangat oleh pemilik Ilyas Farm, Abu dan Ummu Azizha, dengan memperkenalkan dan menjelaskan berdirinya Ilyas Farm. Kami menyimak sejarah berdirinya Ilyas farm yang telah eksis berdiri selama 20 tahun sambil menikmati hidangan susu segar hangat yang baru diperah dan fettucini lezat masakan Ummu Azizha di teras pondok peternakan
Pemanfaatan Potensi Peternakan Sapi dalam Mendukung Ketahanan Pangan dan Pengembangan Ekonomi

Abu Azizha, seorang praktisi peternakan sapi, mengungkapkan berbagai manfaat yang bisa diambil & dikembangkan dari usaha peternakan sapi. Mulai dari penggunaan daging, kulit, hingga susu, serta kotoran sapi yang dapat dijadikan pupuk kandang sebagai sumber nutrisi untuk tanaman. Pengolahan susu sapi segar menjadi berbagai olahan seperti yoghurt & keju juga dapat menambah nilai produk serta memperpanjang masa simpannya.
Potensi agribisnis yang luas di negara kita menuntut adanya tenaga ahli yang mampu mengolah hasil peternakan menjadi produk makanan bergizi sebagai modal ketahanan pangan di masa depan.
Abu Azizha memberikan motivasi kepada para santri untuk memiliki semangat belajar yang tinggi agar kelak menjadi individu yang berilmu pengetahuan, menguasai teknologi, & memiliki jiwa wirausaha sehingga dapat mengoptimalkan potensi sumber daya alam yang melimpah di negara kita.
Contoh nyata dari penerapan prinsip-prinsip ini dapat dilihat dari Ilyas Farm, yang saat ini telah memiliki 60 ekor sapi. Melalui metode Inseminasi Buatan (IB), mereka memperoleh anakan sapi dengan bibit unggul, meningkatkan efektivitas & efisiensi dalam proses perkawinannya. Keberhasilan ini juga menciptakan peluang bagi pengembangan edupreneurship dalam bentuk teknopreneur & ecopreneur.

Pengalaman melihat langsung proses IB di Ilyas Farm menginspirasi banyak pertanyaan dari para santri, memicu diskusi yang kaya di kandang sapi.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pendekatan edupreneur dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki keterampilan teknologi & kesadaran lingkungan yang tinggi, siap berkontribusi dalam mengembangkan sektor pertanian dan ekonomi negara.
[su_box title=”Author – Fortin Sri Haryani, S.Si., M.Pd.”]Saat ini penulis adalah Mudir Pendidikan di Pesantren Al Wafi Islamic Boarding School Depok. & saat sedang mengambil program S3 di UKM Malaysia[/su_box]



