Dalam dunia bisnis yang semakin terhubung secara digital, teknologi telah mengubah cara perusahaan melakukan penjualan. Salah satu evolusi paling signifikan adalah munculnya konsep social selling. Sebelumnya, perusahaan sering mengalokasikan anggaran besar untuk iklan konvensional seperti selebaran, brosur, atau panggilan telepon yang berujung pada hasil yang kurang memuaskan. Namun, dengan kemunculan media sosial, perubahan paradigma dalam strategi pemasaran telah terjadi.
Konsep social selling telah menjadi sorotan dalam dunia pemasaran modern. Ini tidak hanya mengubah cara perusahaan berinteraksi dengan pelanggan, tetapi juga mengubah lanskap pemasaran secara keseluruhan. Sebelumnya, perusahaan harus mengalokasikan anggaran besar untuk mencapai audiens mereka melalui iklan konvensional. Namun, dengan kemunculan media sosial, paradigma pemasaran telah bergeser secara signifikan.
Media sosial memberikan peluang baru bagi perusahaan untuk mempromosikan merek dan produk mereka dengan biaya yang lebih rendah, tanpa mengorbankan efektivitasnya. Konsep social selling memungkinkan perusahaan untuk terhubung langsung dengan pelanggan potensial, membangun hubungan yang kuat, dan mempengaruhi keputusan pembelian mereka melalui platform-platform seperti Facebook, Instagram, dan LinkedIn.
Dalam konteks bisnis modern yang semakin terhubung secara digital, penting bagi perusahaan untuk memahami peran dan potensi social selling dalam strategi pemasaran mereka. Untuk lebih memahami implikasi dan manfaat dari social selling, penelitian seperti yang dilakukan oleh Smith, J. et al. (2021) memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana perusahaan dapat memanfaatkan media sosial untuk meningkatkan penjualan dan mencapai kesuksesan dalam lingkungan bisnis yang kompetitif saat ini.
Apa Itu Social Selling?

Social selling adalah strategi penjualan yang menggunakan media sosial sebagai sarana utama untuk mempromosikan produk atau layanan, menarik minat pelanggan, dan menjalin hubungan dengan mereka. Ini melibatkan pembuatan konten yang relevan, berbagi informasi yang bermanfaat, serta berinteraksi secara langsung dengan target audiens. Dengan demikian, social selling tidak hanya tentang menjual barang atau jasa, tetapi juga tentang membangun kepercayaan dan memperkuat relasi dengan pelanggan. Sebagai contoh, Jones, A. (2020), menggambarkan social selling sebagai praktik yang menghubungkan merek dengan prospek, mengembangkan hubungan dengan mereka, dan berinteraksi secara aktif dengan calon pelanggan.
Social selling dapat menjadi strategi yang efektif dalam membantu bisnis mencapai target penjualan mereka. Ini bisa dianggap sebagai cara modern dalam membangun relasi dengan pelanggan. Jika sebuah merek memiliki kehadiran aktif di berbagai platform media sosial seperti Facebook, LinkedIn, atau Twitter, mereka telah terlibat dalam praktik dasar dari social selling.
Baik bisnis besar maupun usaha kecil dapat memanfaatkan social selling. Tak peduli apakah mereka menjual produk atau jasa, media sosial dapat menjadi alat yang sangat berguna untuk merawat hubungan dengan prospek, membangun kesadaran merek, dan mendukung upaya penjualan. Dengan terus meningkatnya penetrasi media sosial dalam kehidupan sehari-hari, penting bagi bisnis untuk memahami dan memanfaatkan potensi social selling untuk meraih kesuksesan dalam lingkungan bisnis yang kompetitif. Semua jenis bisnis dapat menggunakan social selling. Baik perusahaan besar atau perorangan wirausahawan independen, apakah menjual jet ski, elektronik, Pendidikan atau yang lainya media sosial dapat menjadi alat yang sangat berguna untuk merawat hubungan dengan prospek.
[su_box title=”Author – Suworo, S.Si.,M.M.”]Saat ini penulis adalah Dosen Manajemen Universitas Pamulang Tangerang Selatan dan di amanahi sebagai Manajer Marketing di Pesantren Al Wafi Islamic Boarding School Depok.[/su_box]



